21/08/2014 14:16
Lebaran Tahun Ini Paling Berantakan
Lebaran Tahun Ini Paling Berantakan

Jakartapress.com – Idul Fitri atau Lebaran tahun 2011 ini bagi mayoritas rakyat Indonesia yang merayakannya merupakan Lebaran paling berantakan, akibat diundur sehari perayaannya. Hal ini, akibat pemerintahan SBY tak mampu memahami arti Lebaran bagi rakyatnya.

“Lebaran bagi bangsa Indonesia memiliki multidimensi. Selain dimensi spiritual, juga sosial, politik, ekonomi dan budaya. Itu sebabnya Hari Raya Lebaran pengaruhnya sangat signifikan terhadap pola pikir dan perilaku umat agama lain,” sambung Koordinator Gerakan Indonesia Bersih (GIB) Adhie M Massardi, Kamis (1/9/2011).

Menghadapi Lebaran, menurut Adhie, sejak jauh hari masyarakat menghitung dan mengutak-atik angka, baik yang berdimensi rupiah, waktu maupun tenaga. Para pengusaha atau pemimpin perusahaan, pasti bekerja keras untuk menambah pendapatan agar bisa membayar THR (tunjangan hari raya) yang juga sudah menjadi kewajiban.

Para pelaku usaha di bidang informasi dan hiburan seperti koran, majalah, TV, bioskop, restoran, sarana wisata dan lain-lain, lanjutnya, tentu lebih rumit lagi menghitungnya. Karena melibatkan banyak orang yang harus dikontrak, dan lain-lain.

“Tapi dari semua itu, yang diam-diam tak kalah ribet dan berdebar-debar dalam menyongsong Lebaran adalah para ibu rumah tangga. Sebab yang mereka urus bukan sekadar rasa dan jenis makanan, tapi juga mengatur uang yang di zaman SBY ini makin susah dicari padahal nilainya makin merosot, sementara harga-harga kebutuhan hidup terus meroket,” papar Adhie Massardi.

Akan tetapi, ungkap Adhie, ketika semua perhitungan itu sudah dirancang dengan matang, dengan berpedoman pada kalender yang sudah disepakati publik, tiba-tiba dengan enteng pemerintah SBY menggeser Lebaran sehari ke belakang. “Padahal pemerintahan sebelumnya, dalam soal Lebaran, nyaris tidak pernah bergeser dari hari dan tanggal di kalender yang sudah bertanda merah,” tandas mantan Jurubicara Presiden era Gus Dur.

Akibatnya, beber Adhie, para ibu rumah tangga mengeluh karena hasil kerja keras mereka seperti mubazir. Opor, ketupat, sambel goreng ati, juga sayur labuh siam yang sudah dipersiapkan sehari sebelumnya, pasti tak akan sanggup dipertahankan bila diulur sehari lagi. Kalau toh bisa, rasanya pasti sudah tidak lezat lagi.

“Begitulah, Lebaran 1 Syawal 1432 Hijriyah ini memang telah kehilangan dimensi spiritual, sosial, ekonomi dan budayanya. Justru dimensi politiknya yang merayap dari mulut ke mulut, dari rumah ke rumah, dari HP ke HP, hingga berkelana bebas di dunia maya,” tegasnya.

Ia menambahkan, perbedaan keyakinan warga Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah (terutama dalam soal pemahaman keagamaan) yang nyaris sudah tak terdengar, mencuat lagi dengan penajaman di sana-sini. Misalnya, menyoal posisi Menteri Agama yang kini dijabat Suryadharma Ali, yang tokoh NU makanya dalam menentukan Lebaran pemerintah ikut dengan NU.

“Mereka lupa, ketika Presiden RI dijabat KH Abdurrahman Wahid yang 1000% tokoh NU, dalam soal Lebaran, pemerintah tetap memegang “konsensus” yang sudah disepakati masyarakat. Justru warga NU yang diberi pemahaman bahwa Lebaran bagi bangsa kita bukan hanya berdimensi spiritual semata,” terangnya.

“Tapi terlepas dari kontroversi pemerintah Yudhoyono dalam menetapkan Lebaran, yang menimbulkan polemik kontraproduktif di masyarakat, faktanya kita semua memang jadi lupa pada berbagai skandal korupsi besar-besaran yang dilakukan jaringan elite kekuasaan, dan kegagalan rezim yang makin menyengsarakan rakyat!” serunya.

Terjadinya perbedaan penentuan 1 Syawal 1432 H telah menimbulkan berbagai pandangan yang beragam dan di sisi lain menimbulkan pertanyaan di kalangan publik. Ketua Umum Badko HMI Jabotabeka-Banten, Rudy Gani, mengungkapkan penentuan hari Idul Fitri di Indonesia sebenarnya bisa disatukan dengan mengedepankan dialog antara ormas-ormas Islam tanpa dicampuri Pemerintah seperti yang terjadi pada penentuan 1 Syawal 1432 H.

"Kalau saja pemerintah, dalam hal ini Menteri Agama bersikap netral dalam menentukan jatuhnya 1 Syawal, kami yakin lebaran kemarin tidak mesti berbeda. Sebab, metode dan kesekapatakan di antara ormas-ormas Islam sebenarnya sudah terjadi pada tahun 1993, jadi tinggal ditagih saja komitmen mereka", ungkap Rudy dalam keterangan persnya, Kamis (1/9/2011).

Menurutnya, peristiwa dua lebaran yang berbeda bagi sebagian umat telah menimbulkan kebimbangan yang bisa berubah pada dangkalnya aqidah Umat Islam. Selama ini, umat selalu dihadapkan pada kontroversi yang sebenarnya ditimbulkan oleh elite-elite, bukan oleh masyarakat.

"Tentu saja, para elite itu harus dimintakan pertanggungjawabannya atas peristiwa itu. Karena, otoritas yang dimilikinya menimbulkan friksi yang langsung menusuk jantung kayakinan umat,” tutur aktivis HMI ini. (*/red)

Berita Terkait

Zoom In Zoom In   Reset Reset   Zoom Out Zoom Out  
 


www.jakartapress.com - PT. Image Power Communication
contents are law enforced and copyrighted ©.