24/04/2014 17:07
Bergaya Ala Kerbau, Demi Dapat Berkah
Bergaya Ala Kerbau, Demi Dapat Berkah

JAKARTAPRESS.COM - Di Alasmalang, Banyuwangi terkenal ada tradisi kebo-keboan. Upacara yang sudah dilaksanakan ratusan tahun itu tujuannya untuk melindungi desa dari bencana.

Siapa penggagasnya tidak ada yang tahu, orang hanya menyebut warisan Mbah Buyut Karti sebagai penggagasnya yang mendapat wangsit agar melakukan bersih desa dengan upacara kebo-keboan.

Upacara kebo-keboan ini untuk memohon tanah yang subur, panen yang melimpah, dan agar terhindar dari segala malapetaka.

Menurut cerita, upacara kebo-keboan berawal saat dusun Krajan, salah satu desa di Banyuwangi tempat suku Using tinggal sedang mengalami musibah berupa  pagebluk, yaitu wabah penyakit yang menyerang tanaman mereka sehingga mereka selalu gagal panen.

Banyak cara telah dilakukan, namun hasilnya nihil. Sampai suatu saat seorang sesepuh desa, bernama Buyut Karti mendapatkan petunjuk gaib untuk melakukan prosesi meniru perilaku kerbau yang membajak sawah, baik suara maupun gerak-geriknya.

Ternyata usaha tersebut berhasil. Hama yang menyerang tanaman para petani dapat dihentikan. Sejak saat itulah kebo-keboan menjadi upacara adat yang selalu diperingati setiap tahun.

Kebo-kebon ini dilaksanakan hari minggu antara tanggal 1 hingga 10 bulan Sura. Dipilihnya hari minggu agar sebagian besar masyarakat bisa mengikutinya. Dipilih bulan Sura karena dianggap bulan keramat berdasarkan kepercayaan sebagian masyarakat Jawa.

Ada tiga tahapan dalam prosesi kebo-keboan ini, pertama selamatan yang dipimpin oleh Kepala Dusun Krajan. Kemudian arak-arakan, peserta mengelilingi dusun Krajan yang diikuti para sesepuh dusun, seorang pawang, perangkat dusun.

Dalam arak-arakan itu juga ada dua pasang kebo-keboan, pemain musik hadrah, pemain barongan dan warga dusun Krajan. Mereka semua akan melakukan pawai ider bumi mengeliling dusun Krajan sambil membawa sesajen. Kebo-keboan di daerah pesawahan.

Prosesi terakhir, empat orang yang berperan sebagai kebo mulai memperlihatkan perilakunya yang mirip seperti seekor kerbau yang sedang membajak atau berkubang di sawah. Pada saat itulah, sebagian warga segera turun ke sawah untuk menanam benih padi.

Dalam prosesi itu diawali dengan menanam hasil pertanian seperti pala gumantung (buah-buahan), pala kependhem atau pala bungkil (umbi-umbian), pala kesampir (polong kacang-kacangan).

Nasi tumpeng, pecel ayam dan buah - buahan tak lupa disiapkan sebagai sesajen. Setelah dibacakan doa makanan dibagi-bagikan kepada warga yang datang.

Lalu, pada acara itu, kerbau muncul diperankan para pria berkostum kerbau. Kerbau itu akan membagikan makanan dan dipercaya makanan itu akan mendatangkan rejeki bagi yang mendapatkan.

Selanjutnya, akan digelar pawai ider bumi diawali dengan Bedah Banyu dan jalan desa dialiri air sebagai visualisasi areal persawahan. Para petani saat itu juga akan membajak sawahnya dengan peralatan lengkap sebagai rangkaian prosesi.

Kegiatan ini berakhir pada tengah hari. Sementara pada sore dan malam hari, kesenian tradisional disajikan, termasuk pementasan wayang kulit semalam suntuk.  [tia]

Berita Terkait

Zoom In Zoom In   Reset Reset   Zoom Out Zoom Out  
 


www.jakartapress.com - PT. Image Power Communication
contents are law enforced and copyrighted ©.