25/07/2014 18:37
Kisah Siswi SMA Dipaksa Oral Seks Wakil Kepsek
Kisah Siswi SMA Dipaksa Oral Seks Wakil Kepsek

JAKARTAPRESS.COM –MA (17) tahun, seorang siswi SMA di daerah Utan Kayu, Jakarta Timur, dipaksa melakukan oral seks oleh Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, T(46). Perbuatan bejat T sudah dilakukan sebanyak 4 kali.

MA berkisah, pertama kalinya disuruh melakukan oral seks oleh T, pada 26 Juni 2012. Saat itu, sekolah MA usai mengadakan kegiatan di Bali.

"Waktu itu pulang dari Bali, karena kami akan mengadakan acara di Sukabumi, dia (T) menelpon saya untuk ketemuan jam tiga sore. Tapi dia minta kalau bisa jangan janjian di sekolah," kata MA saat ditemui di rumahnya di daerah Matraman, Jakarta Timur, Kamis (28/2).

Karena ingin membicarakan mengenai kegiatan sekolah di Sukabumi, tanpa curiga MA mengiyakan ajakan T untuk bertemu.

"Akhirnya saya janjian di depan BCA Utan Kayu. Saat tiba, saya masuk ke mobil T dan T langsung mencium tangan saya, tapi langsung saya giniin (tarik), katanya minyak wangi kamu wangi banget," ungkapnya.

MA diajak T mengisi bensin di Cempaka Putih, lantas makan di Ancol.

"Sampai di Ancol saya diajak makan pizza, terus dibawa muter-muter sampai akhirnya parkir ditempat yang sepi. Waktu itu sekitar jam tujuh malem, di situ saya disuruh begitu," kata MA sambil menceritakan bagaimana T memaksa dia melakukan oral seks.

 

IJAZAH DITAHAN

Usai melampiaskan aksi bejatnya, T mengacam MA agar tidak memberitahukan perbuatannya. "Dia bilang, Neng jangan bilang siapa-siapa. Kalau bilang-bilang, ijazah dan nilai saya akan ditahan," beber siswi kelas XII ini.

Perbuatan itu ternyata kembali dilakukan T terhadap MA di dalam mobil pada awal Juli 2012.

Kali ini, saat pembagian rapor sekolah, T kembali mengajak MA dengan alasan yang sama, yakni untuk membicarakan kegiatan sekolah.

"Saya dibawa ke Sentul, dikasih makan bakmi kelinci, terus diajak latihan mengemudi mobil tapi saya enggak mau. Saya diajak keliling sentul, mau ke mal, tapi enggak jadi karena pakai baju batik, akhirnya ke mobil lagi dan dia memarkirkan mobilnya ditempat sepi. Di dalem mobil saya digituin lagi," kenang MA.

Beberapa hari berikutnya, masih di bulan Juli, T kembali mengajak MA ke Ancol untuk melakukan tindakan yang sama. Merasa takut dan diancam, MA kembali menuruti kemauan T.

"Saya turutin karena dia selalu mengancam ijazah saya akan ditahan. Kan sebentar lagi saya lulus, saya takut kalau ijazah dan nilai ditahan," ujarnya sambil menangis.

Merasa bingung dan takut, MA akhirnya menceritakan kejadian ini kepada seorang guru yang telah dianggap sebagai ayah. Guru berinisial Y yang membimbingnya itu meminta MA melaporkan perilaku Wakil Kepala Sekolah kepada yang berwajib.

"Saya bingung karena sudah tidak ada ayah, cuma guru itu yang ngelindungi saya dan nganggep saya anak. Kemudian guru itu nyuruh saya melaporkan kepada guru BK (Bimbingan Konseling) dan saya buat laporan pada bulan Desember."

Sayangnya, sampai saat ini belum ada tindak lanjut apapun dari laporan MA. T sendiri masih bertugas sebagai Wakil Kepala Sekolah. Dia selalu menuding laporan T sebagai fitnah.

 

MALAH DIANCAM

Upaya MA melaporkan kejadian itu ke pihak sekolah dan kepolisian, justru memperpanjang masalah. Bukannya keadilan yang MA dapat, namun ia justru diteror dan bahkan di intimidasi.

"Beberapa kali saya mendapat telepon dan BBM teror dari dia (pelaku). Telepon tidak pernah saya angkat. BBM juga tidak saya balas. Pernah satu hari dia nemuin saya di sekolah, ngajak ngobrol serius, tapi saya bilang nggak bisa," ungkap cewek remaja ini.

Diduga karena kesal, sang guru bahkan membuat skenario di hadapan teman-teman MA di organisasi intra sekolah (OSIS). Skenario itu dibuat seolah-olah dia difitnah.

"Dia mengumpulkan teman-teman saya di kepanitiaan OSIS. Dia bilang kalau bapak difitnah, mau dibawa ke pengadilan'," ungkap MA.

Dalam skenario itu, T meminta dukungan dengan alasan istrinya sedang hamil.

Kepada teman-teman MA, pelaku mengakui kalau dia dekat dengannya. "Tapi bilangnya kedekatan itu hanya untuk melindungi saya," ucapnya..

Tak hanya dapat intimidasi dari T. MA juga mendapat intimidasi dari pihak sekolah. Beberapa guru, termasuk kepala sekolah memintanya bungkam. Dan juga meminta kasus itu tidak dilanjutkan hingga selesai ujian nasional.

"Sampai datang ke rumah. Orangtua saya juga sampai dipanggil 2 kali. Kepsek dan wali kelas memojokkan dan mengintimidasi. Mereka minta saya tutup kasus ini sampai selesai ujian karena istri guru T itu lagi hamil," jelas MA..

Di tengah perlakuan intimidasi itu, MA tetap memberanikan diri bersekolah. Namun, setiap langkahnya, ia dihantui perasaan takut. "Saya tidak bisa keluar ke kantin, di kelas terus. Saya takut," paparnya.

Sialnya, Suku Dinas Pendidikan Menengah dan Tinggi (Sudin Dikmenti) Jakarta Timur pun tak memberi solusi yang terbaik. Bahkan, beberapa staf Sudin Dikmenti meminta korban tidak melanjutkan kasus itu dengan alasan aib korban.

"Di Sudin Dikmenti, saya dibilang jangan buka aib ini ke mana-mana. Bilangnya ini aib saya. Padahal ini bukan aib saya dan Pak T sendiri yang bilang ke teman-teman saya," urai MA sambil tangisnya kembali pecah.

Kini MA tetap berharap ada keadilan bagi dirinya. Biar ia bisa tenang menyelesaikan sekolahnya. Namun siapa yang peduli jika hukum sudah dikarungi kekuasaan? Yah, hanya waktu yang bisa menjawab.  [syahnoer]

Berita Terkait

Zoom In Zoom In   Reset Reset   Zoom Out Zoom Out  
 


www.jakartapress.com - PT. Image Power Communication
contents are law enforced and copyrighted ©.